KH Ma’ruf Mangunwiyoto, Pemimpin Barisan Kyai Jawa Tengah
Kamis, 24 Agustus 2017 05:01
Tokoh
Bagikan
Kiai Ma'ruf dan istrinya
Sebelumnya telah diterangkan tentang kiprah Barisan Kyai, sebuah kelompok pasukan yang terdiri dari para kiai sepuh. (baca: Usia Uzur Tak Jadi Halangan Untuk Ikut Berjuang)
Pada
zaman perang kemerdekaan, peran mereka begitu besar. Selain diharapkan
nasihat-nasihatnya dalam peperangan untuk membakar semangat para
pejuang, sebagian dari mereka juga ada yang memanggul senjata, ikut
berperang di front terdepan.
Di Jawa Tengah,
Barisan Kyai ini dipimpin oleh seorang ulama dari Kota Surakarta yang
bernama KH Ma’ruf Mangunwiyoto. Gelar Mangunwiyoto ini didapatkannya
setelah ia berhasil menyelesaikan pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum
Surakarta dan diangkat menjadi guru.
Kiai
Ma’ruf dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri NU di Kota Solo. Hal ini
diungkapkan KH Saifudin Zuhri, seorang Tokoh NU yang juga pernah
nyantri di Kota Solo pada tahun 1930-an, dalam buku “Berangkat dari
Pesantren” (2013).
Menurut dia, sosok Kiai
Ma’ruf yang menjadi pengasuh pesantren di daerah Jenengan Surakarta juga
dikenal sebagai seorang ulama besar, khususnya dalam bidang hadist.
Kealiman
yang dimiliki oleh Kiai Ma’ruf, juga sedikit banyak ia dapatkan dari
faktor nasab. Kiai Ma’ruf berasal dari keturunan seorang ulama besar,
yakni Kiai Abdul Mu’id bin Kiai M Tohir bin Nyai Syamsiah binti Kiai
Imam Rozi Tempursari Klaten Jawa Tengah.
Kakek
buyut Kiai Ma’ruf, yakni Kiai Imam Rozi Tempursari merupakan seorang
ulama yang juga menjadi seorang panglima (Manggala Yudha) perang pasukan
Pangeran Diponegoro, yang bergelar Singa Manjat.
Darah
pejuang dari para leluhurnya ini lah barangkali yang menjadi semangat
Kiai Ma’ruf bersama sejumlah kiai lain, seperti KH Abdurrahman KH R Moh
Adnan, Kiai Abdul Karim Tasyrif, Kiai Martoikoro, Kiai Asnawi, Kiai Amir
Thohar dan ulama lain di Barisan Kyai untuk ikut berjuang melawan
penjajah. Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)
Kiai Ma'ruf dan istrinya
Sebelumnya telah diterangkan tentang kiprah Barisan Kyai, sebuah kelompok pasukan yang terdiri dari para kiai sepuh. (baca: Usia Uzur Tak Jadi Halangan Untuk Ikut Berjuang)
Pada
zaman perang kemerdekaan, peran mereka begitu besar. Selain diharapkan
nasihat-nasihatnya dalam peperangan untuk membakar semangat para
pejuang, sebagian dari mereka juga ada yang memanggul senjata, ikut
berperang di front terdepan.
Di Jawa Tengah,
Barisan Kyai ini dipimpin oleh seorang ulama dari Kota Surakarta yang
bernama KH Ma’ruf Mangunwiyoto. Gelar Mangunwiyoto ini didapatkannya
setelah ia berhasil menyelesaikan pendidikan di Madrasah Mambaul Ulum
Surakarta dan diangkat menjadi guru.
Kiai
Ma’ruf dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri NU di Kota Solo. Hal ini
diungkapkan KH Saifudin Zuhri, seorang Tokoh NU yang juga pernah
nyantri di Kota Solo pada tahun 1930-an, dalam buku “Berangkat dari
Pesantren” (2013).
Menurut dia, sosok Kiai
Ma’ruf yang menjadi pengasuh pesantren di daerah Jenengan Surakarta juga
dikenal sebagai seorang ulama besar, khususnya dalam bidang hadist.
Kealiman
yang dimiliki oleh Kiai Ma’ruf, juga sedikit banyak ia dapatkan dari
faktor nasab. Kiai Ma’ruf berasal dari keturunan seorang ulama besar,
yakni Kiai Abdul Mu’id bin Kiai M Tohir bin Nyai Syamsiah binti Kiai
Imam Rozi Tempursari Klaten Jawa Tengah.
Kakek
buyut Kiai Ma’ruf, yakni Kiai Imam Rozi Tempursari merupakan seorang
ulama yang juga menjadi seorang panglima (Manggala Yudha) perang pasukan
Pangeran Diponegoro, yang bergelar Singa Manjat.
Darah
pejuang dari para leluhurnya ini lah barangkali yang menjadi semangat
Kiai Ma’ruf bersama sejumlah kiai lain, seperti KH Abdurrahman KH R Moh
Adnan, Kiai Abdul Karim Tasyrif, Kiai Martoikoro, Kiai Asnawi, Kiai Amir
Thohar dan ulama lain di Barisan Kyai untuk ikut berjuang melawan
penjajah. Lahumu al-fatihah! (Ajie Najmuddin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar